Psikologi Agama

           Interelasi Kandungan Surah Abasa dengan Perilaku Manusia

        Manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain, manusia tidak bisa berdiri sendiri untuk memenuhi segala macam kebutuhan untuk kelangsungan hidupnya. Kehidupan yang saat ini dijalani memang mengharuskandan menuntut kita untuk bergantung pada orang lain. Dalam segala bidang dan segala hal, setiap orang orang butuh pakaian seseorang butuh penjahit, penjahit butuh kain penjahit butuh penenun, penenun butuh benang penenun butuh pemintal, pemintal butuh serat pemintal butuh petani. Ini baru untuk pemenuhan bahan produksi, bagaimana dengan alatnya? Pastinya penjahit butuh alat, penenun butuh alat, pemintal butuh alat, petani pun butuh alat untuk prosesnya. Lihat daja dalam berpakaian pun kita membutuhkan banyak sekali orang. Tak mungkin kita sendiri yang menjadi petani, pemintal, penenun, dan penjahit untuk membuat satu lembar kain untuk menutup badan kita. Dan ini hanya baru pakaian bagaimana dengan tempat tinggal, makanan, minuman, transportasi, dan hal-hal lain yang kita butuhkan untuk hidup. 

       Dalam membangun hubungan sosial untuk pemenuhan kelangsungan hidup manusia tidak menampik adanya perilaku-perilaku ataupun perbuatan-perbuatan kebaikan yang menyertainya. Perbuatan baik ini menyelaraskan hubungan sosial antarmanusia. Berbuat kebaikan ataupun segala sesuatu yang diniati dengan kebaikan akan mendapatkan kehidupan yang baik pula. Berbuat baik membuat kita lebih menjadi seseorang yang lebih empati dan simpati dengan orang lain dan sekitarnya. 

        Perlu kita sadari bahwa berbuat baik tidak langsung serta merta dengan pengamalan yang dilakukan namun juga harus dilandasi dengan niat yang baik dan ikhlas dalam menjalani segala perbuatan baik. Jangan sampai kita berbuat baik namun kita memiliki sesuatu keinginan yang terbesit di dalam hati. Seperti pepatah yang sering kita dengar "ada udang di balik batu" yang maksudnya berbuat baik kepada orang lain namun berniat mencari keuntungan ataupun imbalan. 

        Entah disadari atau tidak jika kita berbuat kebaikan lantas ada sedikit saja terbesit di dalam hati ataupun niat kita untuk mencari keuntungan, misalnya memilih berbuat baik kepada orang yang sekiranya akan memberikan keuntungan pada kita itu berarti kita sudah melakukan kesalahan dalam berbuat baik karena kita melakukan bukan dengan niat tulus ikhlas menolong tapi juga ada sedikit rasa ingin mendapatkan sesuatu di kemudian hari dari orang yang sudah kita tolong. 

        Berbuat baik merupakan salah satu perilaku ataupun tindakan yang mulia nan terpuji yang dapat dilakukan seluruh umat manusia. Berbuat baik adalah perilaku yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu dan wa Sallam pun tetap berbuat baik atau bersikap baik walaupun mendapatkan balasan perlakuan yang tidak baik dan cenderung menghina dan merendahkan Nabi2 Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Hal ini, seharusnya memotivasi kita agar selalu berbuat baik kepada siapapun. 
Kebaikan yang kita lakukan sudah pasti akan kembali pada diri kita sendiri. Namun, kita tidak boleh ada rasa pamrih dalam melakukan suatu kebaikan apalagi memilih-milih kepada siapa  untuk berbuat kebaikan yang setidaknya dapat memberikan keuntungan kepada kita. Semestinya berbuat kebaikan tidaklah memandang fisik, golongan dan pangkat seseorang. Setiap orang berhak mendapatkan suatu kebaikan dari orang lain. Namun, pada masa kini tidak dapat dipungkiri masih ada saja orang yang memilih-milih dalam melakukan suatu kebaikan krpada seseorang. Mereka cenderung memilih  seseorang yang terpandang untuk ditolong  daripada menolong orang-orang yang benar-benar sedang kesusahan dan membutuhkan pertolongan. Hal tersebut biasanya terjadi karenanya adanya rasa ingin dibalas atau pamrih yang ingin didapat  dari kebaikannya tersebut. 

        Fenomena semacam itu sebenarnya sudah sudah ada dan terjadi sebelumnya, hal tersebut dapat kita lihat dalam ayat-ayat Al-qur’an  pada Surah Abasa ayat 1 dan 2 yang artinya "Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta keadaannya. " (QS. Abasa ayat 1 dan 2)

       Dari ayat tersebut, terdapat penjelasan dimana Allah Swt.menegur Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam  karena sikap Nabi yang lebih memilih untuk berbicara dengan pemuka-pemuka Qurais yang diharapkan agar mereka masuk Islam dibandingkan berbicara dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta ya g mengharapkan agar Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam membacakan kepadanya ayat-ayat Al-qur’an yang telah diturunkan Allah Swt. 

       Maka dari itu berkaca pada ayat tersebut  sudah dijelaskan bahwa kita tidak diperbolehkan memilih-milih orang dalam melakukan suatu kebaikan, lakukanlah dengan niat yang ikhlas nan tulus dalam segala kebaikan yang kita lakukan. Dan lakukanlah kebaikan kepada setiap setiap orang yang membutuhkan. Dan hendaklah menyerahkan segala sesuatu perbuatan baik kita kepada Allah Swt. karena balasan dari Allah-lah balasan yang sempurna yang mungkin tidak kita kira sebelumnya. Wallahu a'lam. 

Penulis Nur Indah Laely
Mahasiswa IAIN PEKALONGAN Jurusan Pendidikan Agama Islam

Komentar

Postingan populer dari blog ini